Senin, 04 Januari 2010

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Untuk menyatakan suatu proposisi kepada proposisi lain yang semakna serta menguji kesamaan dari beberapa prpsisi yang kita hadapai kita perlu mengetahui proses penyimpulan edukasi, melalui teknik konversi, obversi kontra posisi dan inversi.

Pada pembahasan makalah ini, kami membahas materi tentang konversi atau disebut juga dengan ’Aks.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Al-Aks atau Konversi

‘Aks secara lughawi, mempunyai arti balik, sebaliknya atau membalikkan. Dalam terminologi Ilmu Mantiq, ‘aks adalah menjadikan bagian pertama dari qadhiyah pertama menjadi bagian kedua pada qadhiyah kedua, dan bagian kedua pada qadhiyah kedua menjadi bagian pertama pada qadhiyah pertama. Dalam terminologi Ilmu Mantiq, mustawi adalah setelah dua qadhiyah dibalik, pengertiannya tidak berubah.[1]

Definisi ‘Aks Mustawiy:

العكس للستوى تبديل طرفى القضية مع الصدق والكيف

Aks mustawiy adalah menggantikan posisi Maudhu’ dan Mahmul qadhiyah dengan tetap terpelihara aspek “kebenaran” serta aspek “positif” dan “negatif”.

Dalam istilah logika, ‘Aks disebut juga dengan konversi. Konversi adalah cara mengungkapkan kembali suatu proposisi kepada proposisi lain yang semakna dengan menukar kedudukan subjek dan prediket pernyataan aslinya. Subjek pernyataan pertama menjadi prediket dan prediketnya menjadi subjek pada proposisi yang baru. Jadi kita beralih dari pernyataan tipe S lepada tipe P S, seperti;[2]

Contoh:

- Tidak satupun mahasiswa adalah buta huruf.

- Tidak satupun yang buta huruf adalah mahasiswa.

Pernyataan asli disebut konvertend (ashl). Sedangkan pernyataan baru yang dihasilkan disebut konverse (’aks). Pengungkapan kembali melalui proses konversi memang mudah. Tetapi kita harus waspada karena tidak selamanya dengan pembalikan akan didapat proposisi yang benar.

Jika Salibah juz’iyyah, maka ’aks-nya tidak bisa dibut sebab akan salah. Contoh: قدلايكون اذا كان هذا معدنا كان ذهبا

Seperti halnya untuk Qadhiyah Syarthiyah Munfasilah tidak terdapat ’aks-nya, sebab dalam Qadhiyah Syarthiyah Munfasilah tidak terdapat keteraturan alamiah (tertib thabi’i); yang ada padanya adalah keteraturan penempatan yang tidak mungkin untuk dibuat aks-nya (tertib wadh’i).[3]

B. Contoh Kalimat Konversi

Agar dapat konverse yang benar perlu diperhatikan patokan berikut;

1.

Pernyataan A harus dikonversikan menjadi I

Contoh:

- Semua batuan adalah benda keras (ashl)

- Sebagian benda keras itu beda (‘aks)

- Semua mahasiswa terdidik (ashl)

- Sebagian yang terdidik adalah mahasiswa (‘aks)

2.

Pernyataan bentuk I dikonversikan menjadi I juga

Contoh:

- Sebagian orang Indonesia itu dokter (ashl)

- Sebagian dokter itu orang Indonesia

- Sebagian cendekiawan boros (ashl)

- Sebagian yang boros adalah cendekiawan (‘aks)

3.

Pernyataan E konversinya bentuk E juga

Contoh:

- Tidak satu pun orang yang sukses hádala malas (ashl)

- Tidak satu pun orang yang malas adalah sukses (‘aks)

- Tidak satu pun hewan itu ketawa (ashl)

- Tidak satupun yang ketawa itu hewan (‘aks)

4.

Pernyataan O tidak dapat dikonversikan

Contoh:

- Sebagian manusia bukan guru

- Sebagian guru bukan manusia (salah)


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

‘Aks secara lughawi, mempunyai arti balik, sebaliknya atau membalikkan. Dalam istilah logika, ‘Aks disebut juga dengan konversi. Konversi adalah cara mengungkapkan kembali suatu proposisi kepada proposisi lain yang semakna dengan menukar kedudukan subjek dan prediket pernyataan aslinya.

Agar dapat konverse yang benar perlu diperhatikan patokan berikut;

1. Pernyataan A harus dikonversikan menjadi I

2. Pernyataan bentuk I dikonversikan menjadi I juga

3. Pernyataan E konversinya bentuk E juga

4. Pernyataan O tidak dapat dikonversikan

B. Saran


DAFTAR PUSTAKA

Baihaqi A.K., “Ilmu Mantiq Teknik Dasar Berpikir Logika”, 1998. Jakarta: Darul Ulum Pres.

Mundiri., “Logika”. 2000, Jakarta: Rajawali Pers.

Sambas, Syukriadi., “Mantik Kaidah Berpikir Islam”, 2005. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.



[1] Prof. DR. H. Baihaqi A.K., “Ilmu Mantiq Teknik Dasar Berpikir Logika”,. (Jakarta: Darul Ulum Pres, 1998). Hal. 102

[2] Drs. Mundiri., “Logika”., (Jakarta: Rajawali Pers, 200) Cet. IV Hal. 72

[3] Drs. H. Syukriadi Sambas., “Mantik Kaidah Berpikir Islam”,. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005) Cet. IV, hal. 111

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar